Back again guys, pembahasan kali ini tentang group policy settings, nah sebelumnya kan sudah membahas tentang apa itu Group Policy, sekarang tentang settings-nya, tapi pembahasan kali ini hanyalah sebuah teori tanpa adanya lab (walaupun di judulnya di tulis lab), hanya sebagai materi tambahan agar kedepannya ketika sudah bermain dengan GPO tidak kebingungan sendiri hehe.

Jadi, group policy settings itu memungkinkan kita untuk mengkostumisasi konfigurasi dari sebuah user’s desktop, environment, dan security settings. Pengaturan tersebut di bagi menjadi dua sub kategori, yaitu Computer Configuration dan User Configuration node. Pengaturan yang kita definisikan di sebuah GPO bisa di aplikasikan pada client computers, users, atau member dari server kita dan domain controller yang lain.

Computer Configuration dan User Configuration node juga memuat tiga subnode yaitu:

  • Software Settings – Software Settings folder yang lokasinya berada di Computer Configuration node memuat Sofware installation settings yang mengaplikasikan ke semua user yang log on ke dalam domain kita menggunakan komputer manapun yang telah di aplikasikan GPO. Sedangkan Software Settings yang berada di lokasi User Configuration node memuat Software installation settings yang mengaplikasikan ke semua user yang di tunjuk oleh GPO, tidak peduli dari komputer mana mereka log on.
  • Windows Settings – Windows Settings folder yang lokasinya berada di dalam Computer Configuration node memuat security settings dan scripts yang di aplikasikan kepada semua user yang log on ke dalam AD DS melalui komputer tertentu. Sedangkan, Windows Setting yang berada di folder User Configuration node memuat pengaturan yang berhubungan dengan folder redirection, security settings, dan scripts yang di aplikasikan pada user tertentu.
  • Administrative Templates – Windows Server 2012 R2 berisi ribuan Administrative Templates policies, yang memuat semua pengaturan registry-based policy. Administrative Templates memiliki file yang berekstensi .admx yang biasanya di gunakan untuk memunculkan user interface untuk Group Policy settings yang bisa kita atur menggunakan Group Policy Management Editor.

Untuk menggunakan Administrative Template Settings, kita harus memahami tiga state yang berbeda di setiap policy settings, yaitu:

  • Not Configured – Tidak ada nya perubahan atau modifikasi terhadap registry dari default state. Not Configured adalah pengaturan default dari kebanakan GPO settings. Ketika system memproses sebuah GPO dengan Not Configured state, registry keys tetap akan di gunakan tidak peduli value nya apa.
  • Enabled – Fungsi policy akan secara eksplisit di aktifkan di dalam registry tanpa peduli status dari state sebelumnya.
  • Disabled – Fungsi policy akan secara eksplisit di non-aktifkan di dalam registry tanpa peduli status dari state sebelumnya.

Memahami ketiga state di atas sangat penting ketika kita bekerja dengan Group Policy inheritance dan multiple GPO. Jika sebuah policy setting di Disabled di registry secara default dan kita punya sebuah lower-priority GPO yang secara eksplisit meng-enable setting tersebut, maka kita harus mengatur sebuah higher-priority GPO untuk men-disable konfigurasi Disabled Policy tersebut jika kita ingin mengembalikan value nya menjadi default.

 

Nah, sekian dari pembahasan teori kali ini hehe

 

-Upi

Tags: ,